Daily Memory

Akhirnya…

30/11/2012

Setelah berbulan-bulan gue gelisah karena perasaan bersalah itu akhirnya gue memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu dan minta maaf ke dia atas kekasaran kata-kata gue waktu itu. Saat itu gue nggak berharap banyak karena harapan gue udah luruh seutuhnya, hilang ditelan rasa penasaran gue. Niat gue hanya satu mengakui kesalahan dan minta maaf. Nggak lebih. Gue berusaha terus meyakinkan diri gue untuk nggak lagi memikirkan dia setelah pesan itu.

Then…. Gue kirim permintaan maaf gue itu via BBM tapi ternyata pending. Gue mikir, pasti HPnya dia kenapa-kenapa. Jadi, gue putuskan untuk SMS dia dengan harapan nomornya masih sama. Beruntunglah gue ternyata dia masih bisa dihubungi lewat nomor Handphonenya. Dia balas SMS gue dengan sangat-sangat baik dan ramah. Dia juga ngasih penjelasan tentang kenapa BBM-nya yang ternyata udah nggak aktif karena rusak dan dia ganti PIN. Oke semudah itu gue mendapatkan PIN barunya. Gue add PIN barunya. Tapi, perasaan yang gue rasakan saat itu berbeda dengan perasaan gue saat mendapatkan PIN lamanya.

Belum ada sepuluh menit gue add PIN-nya dia accept dan nggak lama kemudian dia ngechat gue. Gue ladenin chat-nya. Tapi, lagi-lagi perasaan senang itu nggak hadir. Perasaan senangyang dulu muncul saat pertama kali gue bisa kontak dan ngobrol sama dia via BBM udah nggak ada. Gue senyum-senyum sendiri memang saat dia BBM gue lagi. Tapi, senyum itu lebih karena perasaan lega bukan harapan akan terbalasnya perasaan gue ke dia.

Semua hilang. Nggak ada sama sekali. Dalam chat itu pun gue mulai menilai lagi. Waktu untuk mengenalnya dulu yang gue rasa kurang ternyata terbayar pada chat terakhir itu. Ada beberapa keanehan yang gue tangkap dari pesannya. Dan kali ini akhirnya gue bisa menekankan kata CUKUP dalam hati gue. Cukup perasaan lega itu saja yang mengobati kegelisahan gue. Bukan kehadirannya kembali dengan segudang kata-kata manis yang gue nggak tahu ada berapa cewek yang dia kirimkan pesan yang sama malam itu.

Pertanyaan itu, kegelisahan itu, rasa bersalah itu, AKHIRNYA berakhir. Gue nggak peduli pride gue turun di depan dia. Gue nggak peduli bagaimana dia menyeringai sinis berbumbu rasa puas saat dia nerima pesan gue. Semua itu nggak perlu lagi khawatirkan. Semua CUKUP. Dia bukan untuk gue. Gue bukan untuk dia. We have our own way.

Then… Now, I can shout out loud that I’m grateful for my life. Thank God I knew you and thank God I’m not yours!

Ciao!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply