Daily

Luar Lingkaran

04/12/2014

Ibu jarinya terus dia gerakkan di atas layar sentuh ponselnya. Akhir-akhir ini Mia jadi rajin buka sosial media yang punya kapasitas jumlah teman itu. Sejak hari itu Mia jadi berubah dari sebelumnya yang tak peduli menjadi peduli dengan akun sosmednya. Saat pertama membuat akun itu tiga bulan lalu dia bahkan baru mengentri 3 kali. Selebihnya dia hanya menerima undangan pertemanan dan melihat postingan teman-temannya dan sesekali memberi tanda emoticon. Hari itu masih dia ingat, hari Selasa pertama di bulan november, Raka menerima undangan pertemanannya. Hanya dengan alasan sederhana itu, Mia kini jadi rajin menampakkan diri di sosial media. Entah dia posting lagu yang didengarnya, check in di tempat yang dia kunjungi, atau sesekali mengentri foto dirinya.

Semua hanya karena Raka. Seperti sore itu. Sambil jalan menuju halte bus di kampusnya dia terus saja menunduk memeriksa siapa saja yang sudah melihat postingannya. Deretan foto kecil-kecil itu dia teliti satu-satu. Tak ada foto Raka di sana. Foto yang sangat dia hapal bahkan sudah sempat dia simpan di dalam ponselnya. Perhatiannya teralih kepada satu posting temannya yang sama dengan Raka. Foto Raka ada di deret itu. Seketika rasa lemas merambat di sekujur tubuh Mia.

Jadi, gini? Raka sekarang pakai inner circle? Dan dia nggak masukin aku di dalam listnya sementara dia adalah satu-satunya orang dalam inner circle-ku?”

Mia masih terpaku di jalan setapak kampusnya.

“Ini sama saja aku nggak berteman sama dia. Buat apa dia terima undangan pertemananku sementara dia nggak mau momentnya aku lihat? Hanya untuk menghargaiku? Itu bukan alasan yang tepat. Ini lebih menyakitkan dari sekadar ditolak.” Pikiran-pikiran negatif mulai muncul di kepala Mia.

Airmata perlahan mengalir di pipinya bersamaan dengan rintik hujan yang turun dalam tenang. Dia tekan tombol log out di aplikasi itu. Lalu dia masukkan ponselnya ke dalam saku.

Kalau begini aku bisa mengartikan sendiri bahwa kamu sedang mengucapkan selamat tinggal. Tapi, sungguh ini lebih menyakitkan dari kata selamat tinggal.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply