Daily Deutschland Friend Job Memory Moment

Penuh Syukur dan Kembali Melangkah

08/02/2013

Ada awal pasti ada akhir. Itu adalah siklus kehidupan yang nggak akan pernah bisa ditampik. September lalu gue menandatangani kontrak kerja untuk sebuah proyek perayaan 200 tahun dongeng Gebrueder Grimm di BKD-Goethe Institut. Awalnya gue diajak sama Shadika, temen sekampus gue, tapi baru saja dua pertemuan ternyata Shadika harus mundur karena jadwal program di tempat kerjanya lagi padet dan dia terpaksa mengorbankan salah satu kerjaan yang ada di depan matanya. Tadinya gue agak segan kalau harus sendirian tanpa temen yang udah lama kenal sebelumnya. Tapi, semua itu hilang seketika saat gue lambat laun mulai membaur dengan 8 assistenten lainnya yang berasal dari kampus lain. Tiga bulan kami 9 assistenten-yang entah bagaimana sejarahnya tiba-tiba kami memutuskan menjadi sebuah kelompok yang punya hak paten-berbaur seakan sudah kenal lama. Tiga bulan waktu yang cukup untuk kami saling mengenal pribadi satu sama lain, membentuk kerja sama yang luar biasa kompak untuk menyukseskan proyek itu.Ā  Mengenal mereka adalah rezeki yang tak terduga indahnya buat gue. Bisa ketawa bareng mereka membicarakan sesuatu yang konyol jadi sebuah ritual yang kami rindukan ketika jadwal kerja kami kosong. Akhirnya media group dalam aplikasi handphone kamilah menjadi wadah kegilaan kami bersembilan. Gue nggak bisa ngebayangin kalau suatu hari nanti gue bekerja di tempat lain, belum tentu gue bisa mendapatkan partner kerja seheboh dan sebaik mereka. Kerja bareng mereka gue merasa nggak ada beban sama sekali. Yah, walaupun di akhir proyek ada sedikit kerikil yang bikin gue kesal. Tapi, semua udah lewat. Dan sekarang proyek itu benar-benar harus berakhir.

Gue yakin kami akan merindukan saat-saat itu suatu saat nanti ketika kami sudah melangkah sesuai tujuan masing-masing. Hingga kini, masih lekat di benak gue bagaimana kami bikin heboh kantor BKD setiap kami mempersiapkan dekorasi untuk proyek yang kami tangani. Hingga kini, masih lekat diingatan gue bagaimana situasi meja “KITA” di dalam kantor itu, selayaknya sebuah stamm Tisch di kafe-kafe di Jerman. Hingga kini, masih lekat dalam ingatan gue bagaimana percakapan kita dalam group Whatsapp yang selalu saja bisa jadi bahan lelucon karena sebagian besar dari kami selalu Typo dalam mengetik pesan. Hingga kini, masih lekat dalam ingatan gue bagaimana kami selalu bisa menghabiskan cemilan di atas meja “KITA” tanpa rasa bersalah. Masih ada dalam ingatan gue bagaimana kami kelimpungan mengurus pameran dan harus bersitegang dengan guru-guru yang agak “RESE”. Masih lekat diingatan gue bagaimana kami bisa tertawa karena salah satu dari kami ada yang suka bercerita ketragisan nasibnya dengan gaya yang lucu sehingga cerita yang harusnya sedih malah jadi sebuah lelucon. Dan masih lekat diingatan gue bagaimana kami kelimpungan mengurus acara punck proyek ini, yaitu Karneval, yang juga bikin kami pusing memikirkan kostum apa yang harus kami pakai dalam acara itu. Dan sekarang semuanya selesai. Ya, tugas kami selesai. Kontrak kami berakhir. Kami masing-masing harus kembali fokus dengan tujuan yang sudah ada dalam rencana kehidupan kami. Jalan kami tentunya berbeda. kemauan kami pun begitu. Tapi, gue harap selanjutnya gue masih bisa mengalami momen-momen indah bareng mereka seperti saat kami masih dalam kontrak kerja kami.

Sedih? Pasti! lega? Itu lebih mutlak kami rasakan. Beban tugas selesai. Yang kami tunggu hanya hasil kerja kami. Apalagi kalo bukan honor. Selanjutnya? Yah terserah masing-masing mau ke arah mana langkah kami tertuju. Gue? Tentunya harus segera mencari pekerjaan lain. Pekerjaan tetap yang penghasilannya bisa gue gunakan untuk menopang hidup gue sehari-hari. Well, guys, Viel Erfolg fuer euch! Ich werde euch vermissen! šŸ™‚

Maerchenausstellung Goethe Institut Jakarta

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply