Book Review

[REVIEW] Dilan Bagian Kedua: Ternyata Dilan juga bisa drama

23/08/2015

IMG_1070_1

Penulis : Pidi Baiq

Tahun Terbit: Juli 2015

Penerbit : Pastel Books – Mizan

Jumlah Halaman : 344 halaman

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.” (Pidi Baiq)

Tahun lalu atas rekomendasi teman saya, saya membaca buku Dilan yang pertama. Cerita dijabarkan dari sudut pandang Milea. Di buku pertama cerita berkisar tentang kehidupan Milea yang baru pindah ke Bandung dan usaha PDKT Dilan yang sangat-sangat unik. Saya suka. Sangat suka. Lucu dan bikin senyum-senyum sendiri. Nah, tapi di review postingan kali ini saya nggak akan bahas buku pertamanya. Saya mau bahas buku yang kedua, karena baru saja saya selesai baca. Hehehe….

Waktu tau bahwa Dilan yang kedua akan segera terbit saya nggak sabar untuk beli. Pengin tahu kelanjutannya Dilan dan Milea setelah mereka jadian bagaimana. Tapi, sayangnya mungkin karena ekspektasi saya terlalu besar dengan buku ini jadilah ketika sudah waktunya terbit dan saya langsung beli bahkan yang edisi khusus bertandatangan penulisnya, dan langsung saya baca buku itu ternyata eh ternyata, ekspektasi saya terlalu berlebih.

Di dalam buku kedua ini terlalu banyak drama dalam hubungan Dilan dan Milea. Dilan masih sering berantem dan masih seperti di buku pertama. Permasalahan yang dialami Dilan lebih pelik di buku kedua ini. Sampai-sampai dia pernah dipenjara. Kurang banyak kejutan di dalam buku kedua ini. Hubungan Milea dan Dilan terasa hambar. Konflik yang timbul juga sebetulnya muter di situ-situ saja hingga terakhir ternyata Dilan pun tidak berubah. Mungkin memang ini yang ingin ditunjukan oleh penulisnya tentang bagaimana menerima seseorang apa adanya itu adalah hal yang penting. Menerima tanpa menuntut perubahan dari seseorang yang disayang untuk jadi lebih baik. Point yang saya dapatkan sih dari buku ini adalah itu. Koreksi saya jika saya salah ya…

Hhmm… selain full of drama, yang bikin cerita ini terasa flat adalah cara penulisannya yang terlalu banyak pengulangan yang itu-itu saja. Tentang bagaimana penggambaran Milea merindukan Dilan. Hanya diucapkan ya begitu, “Dilan, kamu di mana? Aku rindu.” Ada banyak kalimat seperti ini di dalam buku ini. Sepanjang cerita Milea pun banyak terbantu oleh orang-orang di sekitarnya. Sehingga membuat situasi dalam cerita jadi flat. Dan lagi-lagi saya ingin kembalikan kepada tujuan penulisnya membuat cerita seperti itu, mungkin memang itu yang ingin dihadirkan dalam buku kedua ini.

Anyway, sebagai sebuah buku cerita tentang anak SMA, ini salah satu buku yang menghibur dan cukup ringan dengan pilihan kata yang memang yang dipakai sehari-hari. Soal lokalitas yang diangkat dalam buku ini jangan ditanya sangat terasa Bandungnya dan Sundanya, walau saya nggak pernah tinggal di Bandung atau bukan orang Sunda. Tapi, cukup bisa terwakilkan imajinasi saya tentang Bandung di cerita ini.

Denger-denger akan ada lagi serinya dari versi sudut pandang Dilan. Nah, saya nungguin buku itu terbit. Masih ingin tahu apa yang Dilan pikirkan tentang Milea.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply