Book Review

[REVIEW] Paper Towns: A Journey to Find Miracle

25/08/2015
Paper Towns - John Green

Paper Towns – John Green

Penulis : John Green

Halaman: 305 halaman

Penerbit: Speak

Tahun terbit : 2009

Mungkin saya adalah salah satu yang terlambat menikmati karya-karya John Green. Tapi, tak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baru dan untuk belajar mengenali banyak karya. Karya pertama John Green yang saya baca adalah The Fault in Our Stars, novel yang cukup fenomenal karena selain ceritanya mengharukan, kemasan dari drama percintaan antara dua orang penderita kanker adalah hal yang belum banyak diangkat dengan gaya yang menarik seperti yang Green persembahkan.

Oke. Untuk review kali ini saya nggak bakal bahas tentang TFIOS tentunya. Sesuai dengan judul posting ini, saya akan bahas tentang buku Green yang berjudul Paper Towns. Adalah Margo dan Q, dua karakter dalam cerita ini yang terlibat dalam sebuah perjalanan pencarian jati diri di usia mereka yang baru akan meninggalkan bangku sekolah menengah atas. Bagi Q, Margo adalah keajaibannya. Kehadiran Margo yang sering misterius dan menimbulkan tanda tanya bagi Q tidak mengurungkan Q untuk tetap menyukainya dan tetap teguh pada pendiriannya dalam usaha pencarian Margo kembali ketika suatu hari Margo menghilang tanpa clue yang jelas. Namun, sedikit demi sedikit dengan bantuan para sahabatnya, Q akhirnya lambat laun bisa menemukan Margo dengan caranya sendiri, mengumpulkan semua clue yang ada.

Soal plot mungkin saya nggak akan bicara banyak. Lebih baik kalian sendiri saja baca biar nggak penasaran. Bagus kok ceritanyam percaya deh! Nah, kalau bukan plot yang ingin saya jabarkan jadi review kali ini point apa yang mau saya bahas? Oke, langsung saja yang pertama adalah, kalimat pembuka dalam prolog. Banyak yang bilang bahwa paragraf pembuka sebuah cerita adalah paragraf penentu kesuksesan cerita tersebut meraih perhatian pembaca untuk tertarik membaca halaman berikutnya. Nah, buku ini salah satu yang punya paragraf pembuka yang bagus. Saya jatuh cinta sekali dengan paragraf pertamanya ini. Berikut kutipannya:

“The way I figure it, everyone gets a miracle. Like, I will probably never be struck by lightning, or win a Nobel prize, or become the dictator of a small nation in the Pacific Islands, or contract terminal ear cancer, or spontaneously combust. But if you consider all the unlikely things together, at least one of them will probably happen to each of us. I could have seen it rain frogs. I could have stepped foot on Mars. I could have married the queen of England or survived months at sea. But my miracle was different. My miracle was this out of all the houses in all the subdividions in all of Florida, I ended up living next door to Margo Roth Spiegelman.”

Yup! Kalimat ini cukup menggambarkan bagaimana posisi Margo di mata Quentin. Cukup bikin wow, betapa spesialnya si Margo ini ya sampai dia dianggap sebagai sebuah keajaiban. Tentu bikin penasaran dong agar bisa baca halaman selanjutnya? Ya, itu yang saya rasakan waktu pertama baca kalimat pertama itu. Saya bertanya-tanya siapa sih ini si Margo. Dan ternyata benar, Margo punya banyak kejutan untuk Quentin dan pembaca. Cewek ini misterius dan penuh petualangan. Cukup berani dan juga masih labil. Tapi, luar biasa dia punya pengaruh begitu besar untuk Q. Oke… nggak akan ada habisnya kalau saya bicara panjang lebar soal relasi Margo dan Q.

Hal menarik lainnya yang dapat saya temui dalam buku ini adalah banyak sekali quotes yang bisa menginspirasi atau setidaknya menjadi refleksi diri. Saya akan sebutkan beberapa quotes yang saya temui dalam buku ini:

“That’s always seemed so ridiculous to me, that people would want to be around someone because they’re pretty. It’s like picking your breakfast cereals based on color instead of taste.”

“But isn’t it also that on some fundamental level we find it difficult to understand that other people are human beings in the same way that we are? We idealize them as gods or dismiss them as animals.”

“How can you seperate those things though? The people are the place is the people.”

 “What a treacherous thing to believe that a person is more than a person.”

Dan masih ada banyak lagi quotes yang terselip di buku ini. Yang saya suka adalah, setiap quotesnya terlihat sederhana tapi bermakna cukup dalam. Green menampilkan sebuah kedewasaan yang dalam setiap karakter yang dia ciptakan di dalam setiap ceritanya. Bukan karakter remaja yang menye-menye dan terhanyut dalam kesedihan soal cinta. Karena dalam setiap ceritanya ditunjukkan bahwa hidup lebih besar dari itu.

Sempat saya sedih karena menduga kalau Paper Towns movie tidak akan masuk ke Indonesia. Tapi, ternyata akhir bulan ini saya bisa menonton Paper Towns secara visual. Masih penasaran dengan Cara Delevigne apakah dia bakal sukses membawakan karakter Margo? Kita lihat saja filmnya nanti.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply