Book Review

[REVIEW] Something Blue: “Everyone deserves a second chance”

14/06/2015

Something Blue Novel

Author: Emily Giffin

Publisher: St. Martin’s Paperbacks

Pages: 374

Published: 2005

Buat yang pernah nonton film atau baca novel “Something Borrowed” mungkin tidak akan asing dengan novel ini. Atau mungkin ada yang belum tahu bahkan bahwa cerita Rachel, Darcy, Dexter, dan Ethan tidak berhenti hingga Dex dan Rachel akhirnya bersama dan Rachel dan Darcy akhirnya bermusuhan. Episode kehidupan mereka berlanjut di buku ini, “Something Blue”. Banyak kejutan yang bisa didapatkan ketika membaca novel ini. Sudut pandang tidak lagi dilihat dari Rachel. Gantian dong ya, Rachel dan Dex sudah bahagia bersama jadi cerita mereka kalau pun diceritain di sekuelnya akan bikin mupeng aja dengan mesra-mesraan pasangan baru itu. Jadi, di dalam buku ini sudut pandang diambil dari sisi Darcy? Ya, Darcy si cewek egois itu? Nyebelin? Nanti dulu. Setelah baca keseluruhan kalian pasti sama seperti gue. I’m so in love with Darcy.

Di buku “Something Blue” ini Emily Giffin memberikan cerita yang sungguh nggak kalah serunya dengan buku “Something Borrowed”. Malah untuk gue sendiri yang sudah baca keduanya, I admit that I love this book more than “Something Borrowed”. Kenapa gue bisa bilang begitu? Berikut gue jabarkan sedikit beberapa point yang menurut gue spesial dari buku ini.

  1. Karakter

Kalau dari segi karakter, kita sudah kenal Darcy sejak di “Something Borrowed”. Cewek ambisius, egois, nggak mau kalah, dan dengan segala sifat nyebelinnya yang membuat Darcy dipandang negatif sepanjang cerita “Something Borrowed”. Nah, di dalam “Something Blue” ini kalau kalian baca pasti akan berubah pikiran seratus delapan puluh derajat. Darcy memang bitch di awal karena memang begitu adanya dirinya namun sepanjang cerita “Something Blue” ini dia akan mengalami segala hal yang membuatnya berubah selangkah demi selangkah.

Cobaan demi cobaan dia lewati sendirian. Cobaan yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri harus dia tanggung dan dia selesaikan dengan caranya sendiri. Sebagai karakter Darcy tumbuh dan berubah ke arah yang lebih baik sepanjang cerita. Dengan segala yang dia hadapi selama dia menenangkan diri di London bersama Ethan ada banyak pelajaran hidup yang membuat Darcy menjadi lebih dewasa. Perubahan tersebut membuat Darcy sangat loveable sebagai seorang karakter. You will fall in love with her along the story. Apa yang terjadi dan apa yang Darcy lakukan dalam penyelesaian setiap masalahnya membuat Darcy seperti karakter yang benar-benar hidup dan bisa membuat gue sebagai pembaca peduli dengannya dan akan setia mengikuti cerita hingga halaman terakhir.

Selain Darcy, ada lagi tokoh lainnya yang bisa bikin meleleh cewek-cewek yang baca buku ini. Ethan, sahabat Darcy dan Rachel, seorang penulis yang tinggal di London. Ethan di buku sebelumnya memang kurang banyak muncul. Tapi, di buku ini Ethan jadi tokoh utama pria. Dan karakter ini lebih menarik dari Dexter. Dari dialog yang terjalin, dari sikap Ethan yang dideskripsikan dari sudut pandang Darcy, terlihat sekali bahwa Ethan ini adalah cowok yang sangat-sangat baik dan bijaksana. Ketegasan Ethan saat awal menolak Darcy tinggal di apartemennya di London juga salah satu pesona karakter ini. Terlebih saat akhirnya Ethan luluh dan mengizinkan Darcy yang sedang hamil itu untuk tinggal di rumahnya, sikapnya yang kayak gini gimana nggak bikin meleleh. Siapa yang nggak mau punya pasangan seperti Ethan yang sungguh-sungguh cerminan seorang Family Man idaman. Selain Darcy, di buku ini pun Ethan juga mengalami perubahan tersendiri dalam kehidupannya. Ada journey yang dia lewati sepanjang cerita. Ada luka lama yang Ethan punya kemudian perlahan bisa dia hadapi.

Sudah cukup pembahasan mengenai karakter. Penasaran dengan dua karakter ini. Penasaran dengan keduanya. Silakan baca bukunya.

  1. Plot

Secara alur, cerita yang disuguhkan dengan sudut pandang orang pertama ini sangat asik dan mudah diikuti. Tidak berbelit meski backstorynya terselit di beberapa adegan. Namun, masih tetap diceritakan dengan alur yang maju dengan tuturan si karakter “Aku” –Darcy.

Adegan-adegan yang disuguhkan sungguh tersulam dengan baik dan sangat dinamis mengikuti si karakter. Dialog terjalin dengan sangat bagus dan terasa riil. Relasi antar karakternya pun dikemas dengan baik di tiap adegan melalui selipan-selipan deskripsi singkat. Hal tersebut bisa membuat pembaca tahu seberapa dekat si karakter tersebut memiliki relasi dengan yang lainnya. Dalam hal ini tentang relasi Ethan dan Darcy.

Beberapa adegan manis tanpa kata-kata yang berlebihan pun banyak ditemui dalam cerita ini. Seperti saat Darcy minta tidur di kamar Ethan. Ethan sempat menolak namun dengan segala cara Darcy akhirnya berhasil merayu Ethan. Simpel dan cukup manis. Terlebih di suatu saat ketika Darcy mulai menyadari dia menyukai Ethan, dia ingin memberikan kejutan pada Ethan dengan cara merapikan apartemen Ethan sebelum dia pulang.

Demikian dari segi plot. Tidak akan habis kalau gue teruskan membahas tentang ini. Dan akhirnya nanti bisa jadi spoiler. :p

  1. Sudut pandang

Sudah jelas dari awal dikatakan bahwa sudut pandang diambil dari sudut pandang Darcy. Yang spesial dan menonjol adalah, Emily Giffin bisa mengkondisikan cerita bagaimana feel Rachel tidak terasa sama sekali dari sudut pandang ini. Suara yang timbul dari penuturan cerita Darcy ini sungguh terasa itu adalah suara Darcy. Pikiran pembaca langsung dibawa masuk ke dalam karakter Darcy melalui caranya bertutur dan penggunaan diksi yang sungguh ceplas-ceplos dan cenderung sinis di awal.

  1. Setting

Setting awal cerita ini masih sempat pakali setting Amerika saat Darcy masih bersama Marcus. Namun, ¾ ke belakang setting yang tampil adalah London. Yang menarik dari cerita ini adalah setting London tidak hanya diceritakan sebagai setting tempat semata. Namun, London terasa hidup di sini karena Darcy menceritakan tentang orang-orang London yang dia temui, pusat perbelanjaan, harga-harga barang, dan bagaimana caranya beradaptasi dengan kota tersebut yang sungguh berbeda dengan kota asalnya. Hal ini tentunya membuat London tidak hanya muncul sebagai setting semata yang ketika setting diubah menjadi tempat lain akan tidak menjadi masalah. Tapi, dengan mengikuti cerita hingga akhir kita akan tahu kenapa memang harus di London karena London dan orang-orang yang Darcy temui itu juga akan menjadi pengantar perubahan karakter Darcy ini.

  1. Moral

Semua cerita memiliki moralnya masing-masing. Dalam cerita ini apa yang bisa diambil adalah tentang sebuah kesempatan kedua. Tentang bagaimana memaafkan diri sendiri dan lingkungan sekitar untuk dapat menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Tidak menghindari masalah namun menyelesaikannya dengan cara sendiri dan berhenti menyakiti satu sama lain dengan cara jujur dan berani mengakui kesalahan. Penyesalan selalu datang belakangan, namun di balik itu semua Darcy berhasil mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya. Yang sempat hilang dari dirinya akhirnya kembali ketika dia sudah bersedia berdamai dengan semuanya.

Kira-kira seperti itu review yang mungkin bisa kalian anggap gue sangat sotoy, hehehe. Terakhir untuk menutup review ini gue memberikan 4 bintang dari 5 bintang untuk buku ini. Gue berharap sih novel ini bisa diadaptasi ke film seperti buku prekuelnya. Pengin banget liat John Krasinski beradegan manis sama Kate hudson.

Anyway, Terima kasih sudah luangkan waktu untuk baca review yang panjang ini. Kalau setelah baca review ini kalian jadi penasaran dengan bukunya, mending buru-buru ke toko buku deh abis itu langsung dibaca. Hehehe…

Anyway, Terima kasih sudah luangkan waktu untuk baca review yang panjang ini. Kalau setelah baca review ini kalian jadi penasaran dengan bukunya, mending buru-buru ke toko buku deh abis itu langsung dibaca. Hehehe…

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply