Book Review

[Rewiew] Dimi Is Married: Bikin Pengin Nikah

26/01/2016


Sebelum masuk ke rewiew bukunya saya mau cerita dulu gimana sampai saya bisa baca buku ini. Salah satu teman saya posting di Path soal book chain. Iseng-iseng saya nyoba ikutan. Toh nggak ada ruginya kan bermodal satu buku dan nanti diikuti dengan buku-buku kejutan dari entah siapa. 2 hari setelah saya kirim buku ke seseorang yang ada di atas rantai saya, saya dapat paket berisi buku bercover putih ini. Saya girang bukan main karena ternyata iseng-iseng itu bisa terbukti nyata.

Saya langsung baca buku ini. Awalnya sempat mengernyitkan dahi karena ceritanya classic, karakternya masih pakai sms dan blackberry untuk komunikasi. Ditambah nggak ada keterangan tahun cerita ini terjadi. Saya lihat di halaman paris buku ini. Oh, pantas saja cetakan pertamanya tahun 2010 dan yang saya punya itu adalah cetakan ke sekian plus dengan desain cover baru. Wah, saya makin penasaran. Buku ini termasuk bestseller dong kalo udah dicetak berulang-ulang sampai covernya ganti.

Cerita ini dikisahkan dari dua POV tokoh utamanya Dimi dan Garda. Saya cukup salut di sini. Penceritaan dengan 2 POV cukup tricky karena rentan redudansi. Tapi, memang tidak ada atau saya kurang jeli rasanya penceritaannya cukup rapi walau penulis harus kerja dua kali. Menghadirkan suara karakter itu perlu effort yang cukup besar.

Masuk ke jalan ceritanya. Dimi dan Garda ini adalah pasangan yang dijodohkan oleh orangtua mereka karena menurut orangtua Garda, usia Garda yang sudah menginjak 31 tahun sudah saatnya berhenti main-main. Bapaknya yang pengusaha kaya raya sudah pusing karena kelakuan anak sulungnya ini yang sering sekali bermasalah dengan banyak wanita. Alhasil dia dijodohkan dengan anak sahabat lama papanya, Dimi namanya. Alih-alih menolak, Garda justru nurut. Tapi, di balik itu semua dianpunya rencana lain. Menuruti keinginan ayahnya untuk memperlancar usahanya dapat kekuasaan di perusahaan milik ayahnya. Garda gak mau kedudukannya diserobot adiknya, Rio, kalau dia menentang perjodohan itu. Lain hal dengan Dimi. Dari awal ketemu Dimi udah naksir Garda walau dia sempat curiga dengan motif di balik perjodohan itu.

Singkat cerita mereka menikah. Garda menampilkan banyak kepalsuan dari sikapnya yang seolah-olah beneran sayang sama Dimi. Dan pada akhirnya situasi pun terbalik.

Cerita ini mengingatkan saya pada sinetron tahun 90an yang judulnya Benci-benci Rindu. Dulu pemeran utamanya Bertrand Antolin dan Lyra Firna. Love hate relationship emang selalu terasa manis dan bikin gemes. Dan hal itu juga terurai dalam kisah Dimi dan Garda ini. Setelah Dimi menghilang karena dia merasa Garda nggak benar-benar mencintainya, yang Garda lakukan justru malah berusaha ngebuktiin bahwa Dimi itu penting buat dia. Manis deh pokoknya.

Karakterisasi dalam cerita ini cukup unik. Garda tampil dengan sosok cowok idaman para wanita sementara Dimi tipe cewek yang polos tapi hobi flora dan fauna. Konflik di cerita ini juga cukup solid. Nggak hanya berkisah tentang cintanya Dimi dan Garda. Tapi, ada yan lebih besar dari itu. Tentang Dimi yang cinta lingkungan sementara dia punya suami yang usahanya bergerak dalam produksi kertas. Jelas itu tabrakannya kelihatan banget kan dan bisa menimbulkan konflik batin antara dua karakter ini sepanjang cerita. Plot device yang bagus.

Sayangnya penjelasan-penjelasan detil tentang karakter kebanyakan dipaparkan dengan menggunakan dialog dan pandangan karakter-karakter lain. Walaupun harusnya berpotenti dibuatkan adegan biar lebih terasa manis. Dan yang paling penting perubahan karakter-karakternya cukup terlihat dan bikib cerita ini tambah solid.

Over all, cerita ini walau klasik tapi boleh juga. Efeknya jadi bikin pengin nikah. Hehehehe… Apalagi punya suami yang cuek-cuek tapi perhatian gitu kaya Garda. :p

Anyway, untuk siapa pun yang kirim buku ini buat saya. Terima kasih banyak. Saya suka.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply