Holiday Memory Moment

Rindu Dewata

07/02/2013

23 September 2012 siang. Cuaca cerah mengantarkan gue dan Nuny (sahabat gue sejak SMP) menuju bandara untuk penerbangan sore menuju Denpasar. Itu adalah kali pertama gue mengunjungi pulau yang orang anggap sebagai surga dunia. Dengan membawa segenap perasaan galau akibat kejadian nggak enak sehari sebelumnya gue mensugestikan diri gue untuk nggak memikirkan kejadian itu lagi. Ini bukan perjalanan pelarian dari kesedihan tapi memang gue dan Nuny sudah merencanakannya sejak lama. Mungkin ini jalan Allah yang sudah tergaris untuk gue agar gue nggak begitu memikirkan rasa kehilangan gue yang terjadi tanggal 22 September 2012.

Matahari mulai turun perlahan ketika pesawat yang membawa gue dan Nuny lepas landas dari terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Sekitar satu setengah jam kemudian senja keunguan di Ngurah Rai akhirnya menyapa gue dan Nuny yang turun dari pesawat bersama penumpang lainnya. Hari semakin gelap ketika kami keluar dari bandara setelah sebelumnya menunaikan salat Maghrib pertama kami di Denpasar. Menghindari taksi-taksi tanpa argo yang berkeliaran di bandara, kami akhirnya harus rla menenteng bawaan kami hingga ke gerbang bandara. Tujuan? kami belum tau kemana kami akan berlindung malam itu. Untungnya adik gue sudah memberikan referensi sebuah homestay yang bagus dan murah di daerah Poppies II, Homestay Dewi 3 namanya. Gue pun mengarahkan sopir taksi untuk segera meluncur ke daerah tersebut. Dalam perjalanan gue pun menelepon kontak dalam kartu nama pemilik Homestay Dewi 3. Keberuntungan pun masih berpihak pada kami karena malam itu ternyata masih ada kamar kosong di sana. Lokasi homestay itu cukup strategis, ada di antara Legian dan Kuta. Mau ke mana-mana deket banget. Fasilitas homestay yang gue tempatin oke banget ternyata, kamar seharga Rp. 250.000 per-malam itu sudah lengkap dengan TV, AC, dan kamar mandi yang super bersih. Homestay itu terdiri dari 2 lantai, kami dapat kamar di lantai 2 paling pojok yang interiornya cukup modern. Sementara interior di lantai 1 homestay itu cukup tradisional dengan pendopo khas Bali dan pintu berhias ukuran-ukiran yang benar-benar menggambarkan kekhasan daerah itu. Semua ini membuat gue merasa benar-benar ada di Bali. Pemilik homestay itu juga ramah dan baik. Gue dan Nuny dibiarkan check-in dulu sementara administrasi diselesaikan keesokan harinya. Sayangnya gue nggak ngambil foto lantai 1 homestay yang penuh ukiran khas Bali itu. Tapi, gue sempet ambil gambar kamar yang gue tempatin kok. Begini kira-kira kamarnya.

ImageImage

Keesokan harinya sebelum kami keluar, Ibu pemilik Homestay itu menyediakan kami sarapan, Roti, buah,dan teh hangat. Sederhana. Namun, cukup membuat kami kenyang. Selesai menyelesaikan administrasi kami pun menyewa motor untukn keliling-keliling Bali. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah pasar Sukowati. Tempatnya jauh juga dari lokasi kami menginap. Sekitar satu jam perjalanan kita baru sampai di Pasar itu untuk membeli oleh-oleh. Panasnya Bali berbeda dengan Jakarta. Meskipun, jauh gue nggak merasa lelah nyetir motor keliling Bali. Pasar Sukowati, ya, Pasar Sukowati, tempat pertama yang kami kunjungi dan sedikit membuat kami menyesal karena uang kami habis seketika di pasar itu. Bukan karena kalap membeli ini-itu tapi lebih kepada ada beberapa barang yang terpaksa kami beli dan nggak tau akan digunakan atau diberikan kepada siapa. harganya pun nggak terlalu murah. Malah cenderung mahal. Pedagang-pedagang pasar itu terlalu agresif menjajakan dagangannya kami sampai ditarik-tarik untuk melihat-lihat dagangan mereka. Nggak sampai satu jam kami di pasar itu. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju tempat berikutnya. Pilihan kami jatuh pada Pure Besakih. Bermodal kesotoyan dan GPS handphone seadanya kami pun menuju Besakih dengan motor sewaan.

Satu jam perjalanan ternyata bukan waktu yang cukup untuk meraih tempat itu. Besakih amat-sangat- jauh dari kota. Jalanannya pun berliku-liku seperti di puncak. Dalam perjalanan itu Nuny menggantikan gue menyetir motor sementara gue menjadi navigator membaca GPS. Di tengah perjalanan yang begitu berliku kami melewati sebuah tikungan berpasir daaaann eng-ing-eng hilanglah keseimbangan motor itu. Nggak sempat ngerem motor itu malah slip dan kami sukses nyusruk di pinggir got. Gue nggak kenapa-kenapa Tapi Nuny cukup parah, tangannya keseleo. Motor sewaan kami? Jangan ditanya spakboardnya sedikit pecah. Kesialan kami belum sampai di situ. Ada satu tas belanjaan kami yang jatuh ke dalam got dan hilang entah kemana. Beberapa orang pengendara motor yang kebetulan lewat di lokasi kecelakaan kami, berhenti memberikan pertolongan. Ketika gue menganggap semua sudah baik-baik saja mereka pun pergi dan berpesan agar kami berhati-hati.

Nuny udah nggak mungkin nyetir lagi karena tangannya sakit. Akhirnya gue yang menggantikannya. Lima belas menit motor itu nggak nyala-nyala. Gue bbm ke semua temen gue yang biasa pakai motor matic. Berusaha sekuat tenaga menstarter lagi akhirnya nasib baik datang juga kepada kami. Ada dua pilihan siang itu, meneruskan perjalanan atau kembali ke penginapan. Mengingat perjalanan sudah lumayan jauh kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Besakih.

Besakih ternyata ada di atas gunung. Perjalanan semakin dekat ke lokasinya semakin berliku. Itu adalah kali pertama gue mengendarai motor di bibir jurang dengan jalanan berpasir dan udara di sana pun semakin dingin. Hari semakin sore dan jalanan semakin sepi. Ada beberapa gerombolan orang keliar dari pura sehabis melakukan upacara adat. Dan kami belum juga sampai.

Pukul empat sore kira-kira akhirnya kami sampai di pura besar di atas gunung itu. Di pintu masuk kami membayar tiket seharga Rp. 15.000 untuk berdua dan ditawari jasa guide dengan bayaran seikhlasnya. Karena kami hanya berdua rasanya membayar jasa guide itu jadi mahal, kalau nggak salah kami memberika Rp.70.000 untuk jasa guide itu. Mungkin kalau beramai-ramai bisa jauh lebih murah.

Hanya setengah jam kira-kira kami berkeliling di sana sampai akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena takut kemalaman di jalan. Perjalanan pulang ternyata lebih jauh dari perjalanan perginya. Rencana untuk mengejar sunset di Kuta pun bubar jalan dan akhirnya kami hanya bisa menikmati malam di dalam kamar penginapan. Nuny mengobati tangannya yang masih sakit. Dan jangan ditanya soal makan malam, karena malam itu kami hanya makan PopMie. Benar-benar hari pertama yang melelahkan dan memberi pelajaran.

Hari berikutnya kami tetap jalan-jalan mengelilingi Bali dengan gue yang mengendarai motor berhubung tangan Nuny benar-benar sakit dan pagi itu mulai bengkak. Masih bermodal GPS kami berangkat memulai hari itu dengan cuci mata membeli oleh-oleh di Joger. Barang-barang di sana bagus-bagus dan gue menemukan sesuatu yang membuat gue senyam-senyum sendiri, gantungan kunci huruf inisial J dan K. Inisial nama karakter di novel gue, Jovan dan Kezya.

 

Image

Selesai belanja kami makan di warung nasi pedas Ibu Andika yang ada di seberang store Joger. Banyak orang yang bilang biasa aja tapi menurut gue Nasi Pedas Ibu Andika itu enaknya banget. Sambalnya yang bikin merem melek bener-bener mantap. Dan sejak saat itu kami memutuskan itu adalah sasaran makan kami seterusnya.

Selesai makan, kami meanjutkan perjalanan ke Tana Lot. rute jalan ke Tana Lot ternyata nggak seeksrem ke Besakih. Sepanjang jalan kami lihat sawah yang hijau bukan jurang dalam yang menganga dengan pohon rindang. Hah.. ternyata masih panjang perjalanan kami. Sepertinya harus gue sambung nanti lagi di postingan berikutnya.

 

Ciao! Bis Bald.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply