Daily

Sedang Lelah Mendengar ungkapan “Tidak Bisa”

08/03/2016

Beberapa waktu yang lalu saat sedang merasa begitu down dengan segala hal yang berhadapan lurus dengan pandangan mata salah seorang teman bilang “Saya sedang lelah mendengar ungkapan tentang ketidakbisaan dari semua orang yang mendengar cerita saya. Lakukan apa pun yang kamu percaya kamu bisa.” Mendengar kata-kata itu saya jadi tertampar. Kalimatnya memang cukup menggambarkan apa yang coba saya utarakan.

Mengapa harus mempertimbangkan ucapan banyak orang yang pendapatnya justru hanya membuat kamu terbatas untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya kamu anggap mungkin? Bukankan Tuhanmu sejak awal menjanjikan sebuah kemungkinan-kemungkinan? Mengapa harus ragu melangkah jika semua harapan masih ada walau sedikit? Sementara banyak orang yang lebih melihat keterbatasan itu malah jadi peluang? Mengapa harus merasa iri dengan keberuntungan orang lain yang mereka dapatkan sejak lahir sementara perjuangan yang kamu lakukan untuk meraih sesuatu justru akan lebih berharga kebanding yang mereka miliki? Mengapa harus takut gagal walau kamu tahu sebuah proses jatuh bangun akan indah pada waktunya? Mengap harus takut menerobos hujan badai padahal kamu tahu di ujung redanya titik air itu akan kamu temukan satu cahaya terang dan berwarna lebih dari sebelumnya?

Inti dari itu semua jangan pernah takut dengan apa yang ada di hadapanmu. Keterbatasanmu mungkin bisa kamu tutupi dengan semangat dan kepercayaan bahwa semua hal mungkin terjadi di dunia ini.

Seperti salah satu artikel yang beberapa minggu lalu saya baca tentang hidup salah seorang fans yang berubah luar biasa ketika dia berhasil mengencani idolanya.

 

Apa yang diraih cewek itu nggak mengkhianati usaha yang dia jalani. Itu hanya salah satu contoh bahwa hanya dengan optimis dan mendobrak semua keterbatasan yang ada segala yang nggak mungkin bisa jadi mungkin.

Tapi, di balik itu semua masih ada ribuan kasus yang pada kenyataannya terbuntukan dengan sebuah takdir. Kalau sudah begini apa sebaiknya yang dilakukan? Menghitungnya sebagai kegagalan dan menjadi titik balik untuk mencari altenatif lain atau justru ladang untuk memupuk semangat untuk bisa lebih gigih memperjuangkannya lagi? Semua berbalik lagi kepada esensi hidup akan sebuah pilihan yang harus dijalani. Dan hidupmu hanya untuk satu kali.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply