Sepucuk surat untuk yang telah tenang

01/05/2014

Liebe Frau Avi,

Seharusnya saya tidak menunda-nunda untuk menghubungi Ibu.

Seharusnya saya tidak perlu merasa tidak enak dan khawatir menganggu Ibu dengan sebuah pesan singkat.

Seharusnya saat itu saya tahu bahwa tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari sehingga kita harus bersiap-siap setiap detiknya.

Subuh itu, saya kaget bukan kepalang membaca berita duka dalam group jurusan. Berita tentang kepergian Ibu untuk selamanya.

Rasa penyesalan merembes ke seluruh hati saya. Ada terima kasih yang tak sempat terucapkan. Ada kata maaf karena selalu merepotkan yang menggantung di tenggorokan.

Ibu Avi, sosok Ibu tak akan pernah tergantikan. Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana dulu saya sering merepotkan Ibu semasa saya menjadi mahasiswa. Ibu satu-satunya sosok dosen yang mengajarkan saya banyak hal tentang hidup. Tentang kebaikan, tentang kesabaran, tentang ilmu yang tak terbatas, dan tentang bagaimana Ibu sayang terhadap mahasiwa yang Ibu didik dengan cara Ibu menghapal semua nama mahasiswa. Ibu Avi, kelas Ibu adalah salah satu kelas favorit saya. Karena Ibu saya bisa lebih menyukai sastra. Ibu selalu menyajikan kisah-kisah menarik di setiap mata kuliah Ibu dan mungkin tanpa masukan dari Ibu yang begitu berharga saya tidak kunjung menemukan topik yang tepat untuk skripsi saya. Saya masih ingat waktu itu saya sering sekali menganggu Ibu dengan pesan singkat ajakan bertemu untuk konsultasi mengenai topik skripsi. Ibu selalu meresponnya dengan baik dan selalu terbuka mendengarkan keluh-kesah kebingungan saya dalam menentukan bahan untuk saya teliti. Ibu Avi, sosok Ibu masih lekat dalam ingatan saya. Sosok yang selalu bersahaja dengan balutan baju batik kesayangan Ibu. Berbincang dengan Ibu adalah salah satu saat-saat terhangat bagi saya dan teman-teman saya. Kami selalu lupa waktu kalau sudah mengobrol dengan Ibu karena begitu banyak yang bisa didiskusikan.

Ibu Avi, tidak terasa bahwa saya dan Ibu terakhir berkirim kabar sekitar setahun yang lalu, saat saya baru saja mendapatkan pekerjaan, dan sekarang saya tidak bisa lagi mengirimi Ibu pesan menanyakan kabar. Kini yang bisa saya kirimkan adalah sederet doa agar Ibu bisa bahagia di sana. Ibu Avi, saya masih ingat bagaimana saya merasa begitu bahagia menerima pesan singkat dari Ibu yang memberitahukan bahwa ada seseorang yang mereview buku saya di salah satu situs. Ibu bilang, Ibu setuju dengan yang dia bilang dalam reviewnya, tentang buku saya, tentang tulisan saya. Pesan singkat dari Ibu bagai penyulut semangat saya untuk tetap menulis, meski hingga saat terakhir Ibu masih ada buku kedua saya belum juga terbit karena saya belum juga kunjung menyelesaikannya. Pertanyaan Ibu mengenai buku kedua saya masih saya ingat, waktu terakhir kita saling berkabar Ibu menanyakan kapan buku kedua saya akan terbit, akan menulis tentang apa lagi nanti? Dan terakhir Ibu bilang bahwa Ibu minta dikabari kalau buku kedua saya itu terbit. Tapi, sayang Bu, mungkin saya lalai memanfaatkan waktu. Buku kedua saya masih belum terbit hingga saya menerima berita kepergian Ibu. Maaf, maaf, maaf. Saya masih berharap Ibu bisa melihat dari kejauhan jika suatu hari nanti tiba saatnya saya melahirkan karya berikutnya.

Ibu Avi, banyak cerita yang belum saya sampaikan kepada Ibu selama satu tahun kita tak bertemu. Dan saya menyesal sekali karena selama satu tahun itu saya benar-benar luput dengan kondisi Ibu yang mulai menurun. Kehilangan Ibu adalah salah satu hal yang tak bisa terbayangkan dalam hidup saya, tapi terjadi. Ibu begitu berjasa bagi hidup saya. Tanpa Ibu, saya mungkin tidak bisa seperti sekarang, bisa berbahasa Jerman dan tahu bagaimana karya sastra dari negara yang menjunjung tinggi kesusastraan itu.

Ibu Avi, mungkin sekarang kita tidak bisa bertatap muka lagi. Tapi, bagi saya Ibu akan tetap ada. Sekarang sakit yang Ibu dulu rasakan tanpa mengeluh sedikit pun dan berjuang mengalahkan sakit itu sudah hilang dan Ibu sekarang ada di tempat yang membuat Ibu tenang. Seminggu lalu saat saya untuk pertama kalinya datang ke rumah Ibu saya melihat seulas senyum di wajah Ibu yang matanya terpejam di pembaringan. Saya dan teman-teman tahu Ibu kini akan lebih bahagia. Kami, mahasiswa Ibu akan terus mendoakan Ibu. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kenakalan kami. Terima kasih atas segala ilmu yang tak pernah habis Ibu berikan kepada kami. Selamat jalan Ibu Avi. Kami semua sayang Ibu, dan kami tahu Allah pun lebih menyayangi Ibu. Yang tenang, Bu di sana. Kebaikan, Ilmu, dan sosok Ibu akan selalu kami rindukan.

Vielen Dank…

Entschuldigen Sie…

Auf Wiedersehen…

 

Liebe Gruesse,

 

Ihre Studentin

Veronica

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply