Daily Friend Love

Terus Berputar Tanpa Berujung

11/02/2013

“People say its relationship complex, we say reality bites.” Dari seorang teman yang nasibnya kurang lebih mirip mirisnya dengan gue.

Are we MESSY? I wanna pretend that we’re just waiting for the right time to get love that we need. But find a love it’s not easy. Even I say that the hardest part in life is looking for love and a lover. Some people say that we’re just waiting for the right time and the best guy but they never know how lonely we are. WE, YESS, WE, because we are 3 girls that never stop thinking about our love destiny which never being real until now. PATHETIC! Yeah, sometimes we have to admit it.

Sabtu sore (7feb2013) Depok dilanda hujan lebat saat upacara wisuda itu berlangsung. Gue dan beberapa teman gue hadir di acara itu untuk memberi selamat dan membagikan bunga pada teman-teman kami yang sore itu resmi mengantongi gelar Sarjana. Tawa, canda, dan cerita saling bersahut-sahutan dalam meriahnya acara. Lupa waktu. Selalu seperti itu yang terjadi ketika gue sudah bertemu dengan teman-teman semasa kuliah gue itu. Balairung mulai sepi. Tapi, langit masi belum lelah untuk berbagi tangis bahagia dan haru mengantarkan para wisudawan ke gerbang masa depannya masing-masing. Kami para pengunjung wisudawan akhirnya memutuskan untuk mencari tempat untuk makan dan meneruskan obrolan kami yang sudah mulai ngalor-ngidul.

Foodcourt sebuah mall dekat kampus menjadi pilihan. Dua jam bukan waktu yang cukup untuk kami membicaraan hal ringan yang sebenarnya berputar-putar di situ saja. Malam itu ternyata malam Minggu dan kita sama sekali nggak menyadarinya. Sudah berapa juta malam Minggu kami habiskan dalam rinai kesendirian? Entah jumlahnya pun kami mungkin nggak bisa mengkalkukasinya.

Permasalahan itu seperti maze yang tak berujung dan kami terperangkap di tengah tanpa tau di mana jalan keluarnya. Apa masalahnya ada dalam diri kami masing-masing? Seburuk itukah kami sampai nggak ada satu pun dalam diri kami menjadi daya tarik? Karena masalah ini terlalu berlarut- larut kadang kami lelah memikirkannya dan membiarkan semua terjadi sebagaimana mestinya saja. Membuat kepercayaan diri kami jadi makin menurun? Jelas! Membuat pandangan kami tentang cinta hanya untuk mereka-mereka yang cantik dan bertubuh bak putri kerajaan? Itu sudah pasti.

Beberapa teman menyangkal pandangan itu. “Nggak semua cowok kayak gitu kok.” Tapi mana buktinya? None! Realita yang kami lihat berbanding terbalik dengan penyangkalan itu. Kami bertiga selalu bertanya “salahnya di mana?”. Semua mata cowok selalu tertuju kepada mereka yang terlihat lemah, manja, dan seakan tanpa cela. Sementara kami? Diperlakukan atau mendapat anggapan bahwa kami bukan cewek adalah hal yang sudah muak kami terima. Entah kapan masalah ini akan menemui ujungnya. Sampai saat suatu saat nanti kami menikah? Rasanya memikirkan hal itu hanya harap abstrak yang sulit terpikirkan oleh logika kami.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply