Friend Job Memory Moment

What 2017 gave to me?

31/12/2017

Pergantian tahun identik dengan resolusi dan pencapaian. Gue nggak mau ketinggalan tren yang muncul setahun sekali ini dan memenuhi timeline seluruh media sosial. Dari mulai Twitter, Instagram, hingga YouTube. Buat gue tahun 2017 ini ada banyak pelajaran yang gue ambil. Tahun lalu, lalu gue menargetkan banyak hal untuk terjadi di tahun 2017 ini. Tapi, sayangnya gue ternyata belum terlalu gigih untuk bisa menyentang ceklis di deretan hal-hal yang gue inginkan.

Namun, di antara banyak hal yang terlewatkan, masih banyak deretan hal yang patut gue syukuri dan gue akui ini adalah sebagai suatu pencapaian. Mulai dari kepercayaan yang gue dapat untuk menulis di medium lain. Hingga pelajaran mengenai ketidakmudahan untuk menangani orang-orang. Bagaimana beratnya melepas. Dan bagaimana menghadapi teguran dari Tuhan tentang ada banyak hal yang terlupa selama ini gue lakukan, terutama tentang bagaimana mencintai diri sendiri.

Di tahun ini banyak sekali hal yang di luar kuasa gue terjadi dan kadang bikin gue ingin menghentikan langkah yang sudah gue mulai jauh. Namun, gue tetap ada pada pendirian dan mengingat kembali tentang bagaimana sulitnya memulai semuanya.

Di tahun ini banyak pelajaran dan juga banyak hal yang mendorong gue untuk naik ke level yang lebih tinggi lagi. Gue percaya ketika kita ada di satu titik tertentu pasti akan banyak lagi rintangan yang di hadapi. “Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpa” bukan? Ya gue percaya hal ini.

Di awal tahun ini. Nggak awal-awal banget sih, hampir pertengahan. Gue sangat senang ketika gue bisa membantu salah satu group kreator untuk mencapai di titik karya mereka bisa tampil nggak hanya di dalam layar komputer atau handphone. Tapi, gue juga mempertontonkan karya mereka di layar bioskop. Meski memang hanya terbatas untuk orang-orang tertentu, acara tersebut merupakan titik puncak usaha mereka yang gue juga ikuti sejak awal banget mereka mulai project ini. Kalau kalian tahu Befourion Films. Nah, itu mereka. Sekumpulan anak-anak kreatif yang punya mimpi di bidang perfilman.

Karya yang mereka tampilkan memang benar-benar mereka godok dengan matang sampai hasilnya jadi bagus. “Satu hari di bulan November” jadi karya pertama mereka yang terpanjang sekaligus salah satu pencapaian akhirnya mereka bisa eksekusi film itu dengan sangat baik. Gue senang waktu itu bisa jadi bagian dari project ini. Dan ketika mereka sampai di titik di mana mereka berhasil memutar film mereka di bioskop untuk private screening bareng audiens mereka, mungkin kegembiraan gue juga sama seperti yang mereka rasain. Karena gue tahu banget bagaimana mereka hampir nyerah dan tetap gue kasih motivasi untuk terus maju sampai hari itu bisa terjadi. 2 April 2017. Pertama kalinya “Satu Hari di Bulan November” ditonton oleh banyak orang di CGV Grand Indonesia. Terima kasih buat teman-teman Befourion Films yang mengajarkan gue bagaimana berkarya itu nggak boleh setengah-setengah dan konsisten untuk bikin konten yang terus-menerus makin bagus.

Menulis memang sudah jadi bagian dari hidup gue. Pengin punya film sendiri yang gue garap scriptnya adalah salah satu cita-cita terbesar dalam hidup gue. Dan mungkin jalannya belum sampai gue mendapat kesempatan untuk nulis film panjang. Tapi, di tahun 2017 ini gue dikasih kesempatan untuk menggarap beberapa script. Di antaranya masih kolaborasi bareng Befourion Films di short movie yang ada di channel mereka dan beberapa musikalisasi puisi yang mereka garap jadi video pendek yang ciamik. Cek sendiri yah di channelnya Befourion Films.

“Was ist dein Traumberuf?” Apa cita-cita kamu? Pertanyaan ini seringkali ditanyakan di kelas bahasa ketika gue masih tingkat 1 di universitas. Dan gue konsisten menjawab, “Drehbuchschreiberin werden.” Penulis skenario. Tahun pertama gue lulus gue nggak langsung dikasih kesempatan untuk langsung jadi penulis skenario. Gue belok dulu jadi penulis Novel remaja. Hingga akhirnya 2017 ini gue dikasih berkah kesempatan untuk bisa nulis script buat webseries brand. Nggak cuma 1 tapi 2 judul sekaligus dalam 2 waktu yang berbeda. Judul yang pertama adalah “Rumah Kos Ibu Mira” hasil kolaborasi dengan Wardah dan “The Viral Project” hasil kolaborasi dengan fruit tea.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lewat dua karya ini akhirnya cita-cita gue tercapai, untuk bisa menulis dalam medium visual. Meski banyak sekali yang harus diperbaiki sana-sini. Dan gue harus lebih banyak belajar lagi ke depannya. Tapi, kalau nggak dimulai dari sini mungkin gue juga nggak akan bisa gerak maju ya. Nggak cuma sampai di sini… Di bulan ramadhan tahun 2017 ini gue juga berkontribusi untuk webseries di channel kantor gue. “Menanti Senja” judulnya. Dengan deretan judul yang tereksekusi dalam bentuk visual, gue semakin merasa ada banyak hal tentang penulisan dengan berbagai medium yang perlu banyak gue pelajari lagi. Dan ini mengantarkan gue untuk bertekad bisa mengirim aplikasi beasiswa di tahun 2017 ini. Lolos atau nggak yang jelas gue nggak akan berhenti berdoa dan berusaha lebih keras lagi.

Deretan pencapaian di dunia penulisan cukup banyak yang gue lakukan. Gue sangat bersyukur atas kesempatan-kesempatan ini. Dua ribu tujuh belas yang sebentar lagi berakhir juga kasih gue kesempatan guet jalan-jalan yang lebih jauh lagi. Nggak cuma sekadar jalan-jalan rutin setiap tahun ke Bali. Korea. Salah satu negara yang gue idam-idamkan karena dunia entertainmentnya sungguh menarik. Nggak cuma artis-artisnya. Tapi juga bagaimana mereka mengemas drama dengan cerita yang riil. Akhirnya gue bisa menginjakkan kaki di sana langsung nggak cuma nonton di tiap episode drama yang bikin baper tiap adegannya. Dapetin teman jalan yang sesuai juga salah satu berkah yang patut gue syukuri. Karena perjalanan jauh dan cukup menguras kantong kalo nggak enjoy kan sama juga bohong. But I have them. Uzi, Chika, dan Wina yang membuat perjalana gue ke Korea menyenangkan. Kita harus jalan-jalan lagi yah tahun depan.

Tahun 2017 adalah tahun pelajaran buat gue. Tahun di mana gue harus merelakan dan melepas banyak hal dan belajar dewasa menerima apa yang ada di hadapan gue. Mulai dari ketidakrelaan gue melepas salah satu adik gue menikah. Awalnya gue nggak bisa terima dan lambat laun gue sadar gue hanya takut kehilangan dia di rumah. Dan deretan pelajaran lain tentang mengikhlaskan sesuatu yang terjadi baik di dunia profesional atau pun di luar itu. Karena hidup terus berjalan. Gue nggak boleh juga memikirkan apa yang menghambat langkah gue ke depan.

Pelajaran demi pelajaran gue hadapi. Namun, satu yang pasti di tahun ini usia gue 28. Banyak yang bilang bahwa akan datang satu masa ketika kita semakin bertambah usia, lingkup pertemanan akan semakin mengecil. Namun, dengan penuh rasa syukur gue masih punya teman-teman gue yang selalu ada kapanpun. Saat senang, saat sedih, dan saat gue merasa sendirian. mereka selalu hadir. Mereka nggak pernah absen di 19 Desember gue setiap tahunnya. Hal yang mungkin banyak orang seusia gue nggak punya. Tapi, gue masih punya mereka.

Akhir tahun 2017 ini ada satu lagi hal yang membuat gue tertampar. Tentang bagaimana gue lupa akan diri gue sendiri selama ini. Allah ingin gue lebih mencintai diri gue sendiri ke depannya dengan menegur gue dengan cara ini. Namun, gue masih berpegang teguh bahwa Dia akan tetap mendampingi gue dan senantiasa memberi pertolongan. Tahun 2017 akan berakhir sebentar lagi. Dan gue harap di tahun 2018 nanti gue akan bisa mendapatkan segala hal yang lebih baik dari tahun ini untuk diri gue sendiri. Bukan untuk orang lain. Like BTS said on their new album “Love Yourself”. Last but not least on this year I’m officially an Army. πŸ™‚

Dan buat kamu si angka 13-ku, I’m still here, waiting for you. At the end of this writing I would like to say, Thank you 2017 for everything and learnings. I hope 2018 will be great!

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply