Daily Writing

Hai 2020 Kita Perlu Bicara

19/07/2020

Hai 2020,

Sini kita berbincang sebentar. 

Ditemani cangkir teh hangat dan senjamu yang mulai terlihat. 

Berdebat denganmu sepertinya bukan lagi cara yang tepat. 

Karena setiap harimu selalu saja ada kejutan yang menggelegar. 

Jadi, izinkan aku mengajakmu berdamai. 

Sini… kita duduk sebentar. 

Detik-detik ketika kau dijemput semua orang dengar hingar bingar sorak kembang api, kau balas dengan luapan air yang gugur tanpa henti hingga tergenang berhari-hari.

Mematikan seluruh kegiatan ekonomi bahkan membiarkan mereka yang terlelap merugi. Sebuah kejutan yang menghebohkan banyak orang. Tapi, mereka masih tetap berjuang. 

Akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada rezeki baru setelah kemalangan. 

Semua berharap. Semua berdoa. 

Di hari-hari berikutnya ternyata kamu masih semangat memberi kejutan

Kehilangan demi kehilangan muncul perlahan-lahan. 

Tentang mereka yang emas di bidangnya satu persatu dijemput tanpa ada tanda. 

Semua bertanya-tanya ada apa denganmu, 2020? 

Mungkin kamu yang terkuat dari tahun-tahun sebelumnya karena bisa membalas berbagai keserakahan manusia yang menganggap diri mereka segalanya. 

Percikan api menyerang di hutan luas. Membunuh banyak penghuninya yang tak bersalah. 

Ini mungkin salah satu akibat ulah manusia. Namun, di tengah perjalananmu semua terjadi tanpa ada aba-aba. 

Bumi ini menangis sudah sejak lama. Namun, paling lantang dan bisa membungkam manusia adalah saat perjalananmu, 2020. 

Paruh kedua kamu bergulir seluruh dunia diserang oleh pandemi yang membuat banyak kota di seluruh dunia mati. 

Lagi-lagi kehilangan.

Kini bukan lagi hanya tentang mereka yang terhebat untuk dijaga dan dijemput pergi keharibaan. 

Tapi, tentang semua yang bernapas di dunia berpeluang untuk pergi dalam waktu cepat karena sebaran virus yang tak terlihat. 

Hiruk-pikuk kota mendadak hening. 

Mobilitas di denyut nadi kota terhenti. 

Termasuk juga kesempatan berjuang bertahan hidup di seluruh pelosok negeri. 

Ibu kota menangis. Pahlawan kesehatan berjuang untuk ratusan jiwa yang tumbang. 

Meskipun tak ada juga jaminan bagi mereka untuk tetap bertahan. 

Yang dilawan terlampau kuat dan tak kasat mata. 

Mereka yang gagal bertahan hanya bisa merelakan.

Merelakan dunianya terombang-ambing tanpa kepastian. 

Tanpa kesempatan baru yang terbuka kembali untuk memenuhi perut dengan sesuap nasi. 

2020, keberadaanmu memberikan begitu banyak pelajaran. 

Tentang harga sebuah pertemuan tatap muka. 

Tentang harga sebuah kebebasan untuk keluar rumah melepas lelah. 

Tentang harga sebuah kesempatan. 

Tentang harga sebuah kepastian di tengah berbulan-bulan ketidakpastian. 

Tentang harga sebuah kewaspadaan yang mungkin bisa dengan mudah tergelincir dengan satu kelalaian yang berakibat fatal. 

Tentang harga sebuah perputaran aktif dunia ekonomi yang membuat 

Tentang harga rindu yang hanya bisa terbalas pesan bukan satu pertemuan.

Tentang memahami bagaimana sebuah perhatian tapi terartikan sebuah tentangan

Tentang harga sebuah kehadiran di tengah kealpaan

Tentang harga sebuah persahabatan yang patut diperjuangkan

Tentang kesempatan kedua

Tentang kepercayaan yang hancur karena kelalaian lebih buruk daripada badai berkepanjangan. 

Tentang ekspektasi yang selalu harus dikikis setiap harinya demi sebuah kebahagiaan, karena realita begitu menyakitkan. 

Dan tentang bagaimana belajar melepaskan. 

Membekas. 

Semua yang ada dalam perjalananmu membekas, 2020. 

Tapi, kamu membiarkan kami mendewasa dalam hening di rumah saja. 

Tak akan kami lupa yang pertama kalinya terjadi di masamu 2020…

Ketika jabat tangan menjadi ancaman

Ketika pelukan bukan lagi bentuk kasih sayang

Ketika menjaga jarak adalah bentuk perjuangan sebuah kebersamaan. 

Apakah ini sebuah jawaban? 

Atau kamu masih punya kejutan lain yang masih kamu simpan?

Tolong kali ini jangan lagi tentang kehilangan. 

Menghardikmu bukan lagi ide yang bagus.

Mengeluh di setiap detik napas di tengah masamu juga hanya memperburuk. 

Jadi, hei 2020….

Izinkan kita untuk bisa berbincang lagi di lain waktu. 

Dengan teh hangat atau penganan yang baru. 

Sambil menikmati senja di normalmu yang baru. 

Berdamai dengan segala rahasiamu dan anggap semua yang telah terjadi adalah masa lalu. 

Kuatkan kami yang tetap berjuang dalam jalanmu yang sungguh kelabu. 

Senja sudah mulai turun. Gelap kembali menjemput. 

Ku rasa cukup perbincangan kita hari ini.

Sampai jumpa di cangkir teh dan bincang senja berikutnya. 

Jaga dirimu, jangan bermain dengan takdir banyak orang. 

Semua tentangmu tak dapat diramal.

Hai, 2020!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply