Sudah dua minggu sejak aku memutuskan untuk disconnect to connect. Aku berusaha seminim mungkin untuk berinteraksi langsung dengan banyak orang untuk bisa lebih banyak waktu berinteraksi dengan diriku sendiri.
Apa yang aku lakukan? Tentunya menyelesaikan rentetan pekerjaanku yang masih harus aku selesaikan dengan sepenuh hati karena itu yang tersisa untuk aku syukuri karena mereka ada ketika yang lain pergi.
Dan mengembalikan kebiasaan dan hobi lamaku untuk menyelesaikan sebuah buku yang sudah aku mulai. Ya, membaca kisah yang tertuang dan diselesaikan oleh penulis buku adalah cara aku mengapresiasi usaha seorang penulis menyelesaikan karyanya. Percaya atau nggak, energy dan waktu yang mereka luangkan untuk bisa menyelesaikan satu cerita hingga halaman terakhir adalah sebuah keajaiban yang Allah kasih kepada tangan-tangan dan pikiran para penulis. Aku bisa bicara seperti ini karena aku tau rasanya. Bagaimana rasanya otak diperas untuk bisa konsisten menyuarakan suara masing-masing tokoh dan membawa mereka dari satu titik ke titik lain, yakni hidup yang lebih baik dan memberikan mereka pelajaran.
Aku ingin kembali ke masa itu juga. Rasanya mungkin seperti berhasil melahirkan seorang bayi. Walaupun aku belum pernah merasakan bagaimana melahirkan bayi yang sebenarnya. Aku ingin kembali menjadi penjahit kata yang bisa memberikan impact untuk banyak orang. Yang mungkin impact yang bisa aku tawarkan hanya sebatas menghibur dan membuat mereka merasakan bagaimana indahnya ada kupu-kupu beterbangan di dalam perut mereka. Aku rindu masa itu.
Perlahan aku yang sedang rindu dengan diriku yang begitu ambisius di masa usiaku yang berkepala dua dulu ingin mencoba meniti lagi apakah aku masih bisa menjadi orang yang sama. Yang haus akan banyak informasi dan ambisius mengejar mimpi. Aku yang dulu konsisten dalam semua keterbatasan, kini terlalu banyak meromantisasi kehidupan. (Setidaknya ini yang sedang aku rasakan). Namun, semoga semua ini bisa menjadi awal baru untukku. Untuk bisa melahirkan kembali karya yang bukan untuk dipuji oleh banyak orang. Tapi, cukup untuk bisa membuatku mencintai dan mengapresiasi diriku sendir. Hal yang menghilang dariku selama beberapa tahun terakhir ini.
Ya, anyway, saat ini aku sedang menyelesaikan buku terjemahan dari penulis Korea yang berjudul “Welcome, to The Hyunamdong Bookstore.” Buku yang sudah aku beli sejak satu tahun lalu. Namun, entah mengapa banyak sekali alasanku menjadi lambat untuk menyelesaikannya. Dari buku ini banyak yang aku bisa pelajari. Tentang bagaimana buku bisa menjadi koneksi ke banyak orang. Tentang bagaimana toko buku masih menjadi sebuah sanctuary yang aman untuk orang-orang yang butuh jeda sejenak.
Menurutku penulis Hwang Bo-Reum begitu pintar menggambarkan bagaimana toko buku Hyunam-Dong bisa menjadi sebuah karakter yang hidup sendiri di dalam buku ini. Bagaimana sebuah toko buku kecil di tengah pemukiman di Seoul yang bisa menjadi wadah buat semua karakter yang datang ke toko buku itu membawa cerita masing-masing dan saling menemukan satu sama lain.
Penceritaannya begitu tenang dan flat. Tapi, ini justru yang menarik. Karena di tengah hiruk pikuk kota Seoul yang semua serba cepat, karakter-karakter ini bisa menjalani hidup lebih tenang dan tidak dikejar oleh hal yang memburu mereka tanpa arah. Padahal, semuanya memiliki masalah pelik yang berusaha mereka selesaikan satu persatu. Dari Yeong-Ju si pemilik toko buku yang berusaha untuk menghidupkan Toko Buku itu terus menerus dan memahami kebutuhan masing-masing pengunjung tokonya. Barista Min-Joon yang ternyata datang di tengah pencarian hidup dan ketenangan pikiran. Jimmy, distributor biji kopi yang ternyata sedang berjuang untuk memperbaiki hidupnya di ujung pernikahan yang tadinya menjadi mimpi indah namun berujung jadi mimpi buruk untuknya karena ternyata menikahi orang yang salah. Para penulis yang datang dengan berbagai karakter. Dan karakter lainnya yang perlahan mengajarkan bagaimana memaknai hidup dan menjalani hidup yang baik. Bukan dengan tergesa tapi dalam keheningan seperti saat membaca buku.
Membaca halaman demi halaman buku ini bikin aku teringat sama perpustakaan semi toko buku yang aku kunjungi di pinggiran kota Seoul beberapa bulan lalu. Namanya Seoul BookBogo. Awalnya aku ke sana hanya untuk napak tilas lokasi syuting Day6. Dan ternyata tempat itu menarik. Di dalamnya selain designnya yang modern fasilitasnya juga cukup menarik karena ada cafe di dalamnya dan juga ada ruang untuk orang duduk dan bahkan bekerja, belajar, atau sekadar baca buku. Tempatnya cukup luas. Kalau aku ada kesempatan ke sana lagi aku akan habiskan lebih banyak waktu di sana. Nggak hanya sekadar mampir.

Untuk menutup postingan hari ini, aku mau kasih quotes yang menurutku bagus. Aku dapatkan kalimat ini dari buku “Welcome To The Hyunam-Dong Bookshop”.
“Hening bisa jadi bentuk perhatian untuk diri sendiri dan orang lain. Mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikatakan, mungkin saja merupakan sikap perhatian terhadap orang lain. Namun, sering kali terjadi ketika seseorang lupa memperhatikan dirinya sendiri karena terlalu sibuk memperhatikan orang lain.”
Hwang, 2024
Baiklah, sampai jumpa di hari berikutnya. Mungkin besok kalau aku sudah menyelesaikan bukunya, aku akan menulis lebih banyak lagi terkait buku ini.



No Comments