Kalau aku bilang aku baru nonton film “Letter To Juliet” yang rilis tahun 2009, semua orang pasti akan mencibir. Bener gak?
Atau ada yang akan mencibir “Katanya penggemar romcom, tapi kok baru nonton sekarang?”
Aku akan jawab. Nggak apa-apa karena nggak akan ada sesuatu yang terlambat untuk apa pun. Karena yang aku selalu percaya bahwa semua akan punya waktunya masing-masing.
Ya, kali ini aku mau bahas tentang film itu. Walaupun tidak sepenuhnya tulisan ini membahas tentang film tersebut seperti sebuah review. Seperti dalam judul tulisan ini, apa yang aku dapatkan setelah menonton film itu bahwa segalanya yang terjadi pada seseorang tidak akan ada yang pernah terlambat. Semuanya tepat.

Sophie menemukan surat Claire di House of Juliet di Verona 50 tahun setelah Claire menyelipkan surat itu di bebatuan. Waktu yang lama bukan, pasti Claire sudah melanjutkan hidup sembari menunggu balasan dari “Para Juliet”.
Buat yang mungkin belum nonton, jadi di Verona ada rumah Juliet di mana setiap harinya banyak perempuan yang berkunjung curhat dengan cara menaruh surat ditujukan untuk Juliet di bangunan tersebut. Ada yang diselipkan di dinding ada yang ditempel juga di dinding. Surat-surat tersebut akan diambil oleh Sekretaris Juliet yang nantinya mereka akan mengirimkan surat balasan untuk semua yang meninggalkan surat di bangunan tersebut.
Dari film itu, surat yang 50 tahun ditinggalkan oleh Claire terselip di dinding bebatuan bangunan ditemukan kembali oleh Sophie, seorang Amerika yang sedang berlibur di sana dan punya ketertarikan mendalam dengan banyak hal. Makanya dia bisa diterima untuk membantu di kantor sekretaris Juliet. Ketika dia menemukan surat itu, Sophie tergerak untuk menulis surat balasan. Tanpa pertimbangan dan bertanya-tanya apakah Claire masih hidup dan apakah dia masih menunggu balasan dari Juliet yang tak kunjung datang.

Dan, semua cerita dimulai sejak surat balasan itu dia kirimkan untuk Claire. Claire datang akhirnya bersama cucunya untuk mencari Lorenzo di Italia. Sophie terlibat dengan semua petualangan pencarian Lorenzo yang berakhir manis. Semua dalam film itu seakan menunjukkan semua hal yang ada di dunia ini terjadi sesuai waktunya itu adalah valid. Benar adanya. Claire yang bahkan sudah hampir merelakan cinta pertamanya tidak akan dia temui lagi akhirnya menemukannya. Dan itu adalah konsep bahwa apa yang sudah menjadi milik kita, tidak akan pernah meleset walau kita harus menunggu puluhan tahun. Apa yang tidak jadi milik kita, nggak akan pernah bisa bertahan dan akan pergi sesuai waktunya, seperti sophie yang akhirnya pergi dari tunangannya Victor. Padahal mereka udah tunangan dan sejengkal lagi menikah dan meraih segala mimpi mereka. Nggak sih Victor doang yang akan bisa menikmati mimpi dan ambisinya. Sophie akan mati bosan dan nggak pernah dirayakan oleh Victor.

Ini memang cuma sebuah film. Dan bahkan mungkin banyak yang bilang ini film terlalu mudah ceritanya dan terlalu dreamy, tapi justru aku suka banget karena straight to the point mau ngomongin apa. Nggak perlu berfilosofi berlibet. Tapi pesannya sampai semua. Coba kalau misalnya surat itu ditemuin sama orang lain di tahun sebelum Sophie datang ke sana. Dan bukan Sophie yang nemuin? Ceritanya pasti akan beda lagi. Charlie mungkin nggak akan pernah ada karena Claire pasti akan menikah dengan Lorenzo, bukan dengan kakeknya Charlie.

Film ini juga aku tonton di tahun 2025 dan di saat ini juga bukan sebuah kebetulan. Allah sudah menggariskannya agar aku bisa belajar untuk bisa percaya dengan yang sudah ditakdirkan untukku sesuai waktunya. Ini bukan tentang jodoh ya, aku lebih terpikirkan tentang ribuan mimpiku yang masih dalam perjalanan untuk bisa berpapasan denganku di waktu yang tepat.
Di tengah kekhawatiranku yang bertubi-tubi, Allah coba kasih aku petunjuk dari film ini. Dan mungkin… jika kamu menemukan tulisanku ini. Entah gimana caranya, percayalah bahwa apa pun yang sedang kamu tunggu, bersabarkan dan terus berusaha untuk mengejarnya. Dan jangan lupa untuk tetap hidup dengan baik untuk kebaikanmu.
Tulisan ini harusnya aku selesaikan sejak siang. Tapi, ternyata waktu yang diberikan untuk tulisan ini terpublish di blogku adalah di penghujung hari. Dan ini juga bukan sebuah kebetulan. Memang waktunya adalah sekarang.
🙂




No Comments