Fast response, say yes everytime the others need me or ask me out.
Lately, I found that I lose my self. Why?
Berawal dari sebuah kekecewaan yang bertubi-tubi datang karena ekspektasiku sendiri. Banyak yang aku luput untuk refleksikan lagi ke dalam diriku sendiri. Waktu 24 jam yang aku habiskan setiap hari sedang aku coba evaluasi. Mana yang salah?

Aku selalu memposisikan diriku ketika mereaksikan sesuatu hal. Seperti, ketika ada satu permintaan dari orang lain. Aku yang tidak suka penolakan, selalu aku refleksikan lagi kepada diriku. Bagaimana perasaannya ketika ditolak. Itu nggak enak. Dan menjadi hal yang aku hindari. Sehingga ketika muncul permintaan itu dari orang lain, aku enggan berkata “TIDAK” sebisa mungkin. Karena aku tau, penolakan seringkali menyakitkan.
Menjadi fast response selalu ada ketika orang butuh, di platform mana pun ternyata bukan hal yang serta-merta baik untukku. Aku selalu menempatkan diri untuk menjadi seseorang yang menunggu jawaban dalam ruang pesan. Nggak enak. Aku nggak suka menunggu balasan yang lama. Sehingga, setiap pesan yang masuk dengan segala upaya aku usahakan untuk bisa terbalas dengan cepat. Namun, ternyata nilai ini tidak bisa didapatkan dan diharapkan kepada semua orang. Apakah aku menyesal sudah selalu menjadi yang fast response? Nggak. Tapi, aku menyesali kenapa ekspektasiku terlalu tinggi untuk mengharapkan hal serupa aku terima dari semua orang. Aku menyesali kenapa aku selalu berusaha untuk hadir apa pun keadaanku saat itu.
Dari dua kebiasaan itu yang selalu terjadi tanpa pernah aku ubah. Beberapa minggu terakhir aku jadi merefleksikan diri kembali. Ketika Allah mencoba menunjukkan aku untuk bisa belajar sesuatu dari semua ini. Ini bukan kali pertama terjadi. Tapi, yang saat ini mungkin jadi pukulan paling keras dari semua yang menumpuk di belakang. Mungkin pukulan-pukulan sebelumnya kurang menyadarkan aku untuk bisa berubah. Untuk bisa hadir untuk diriku sendiri, bukan demi orang lain.
Gelisah dan kesedihan yang mendalam jadi makananku beberapa minggu terakhir ini. Aku menyesali kenapa aku bisa berbuat sebegitu lalainya terhadap diriku sendiri. Kenapa segitu aku pikirkan untuk bisa selalu hadir untuk orang lain sementara diriku sendiri butuh kehadiranku setiap saat. Diriku sendiri butuh kehadiranku untuk menyelesaikan masalahku sendiri yang kerap kali aku anggap sepele.
Adikku pernah bilang, ketika aku masih dihadapkan dengan masalah dan juga dipertemukan dengan orang yang sama, itu artinya aku belum lulus di ujian kehidupan tersebut. Ini nggak pernah terpikirkan sama sekali selama ini. Luput dari apa yang aku prioritaskan karena aku lihat semua berjalan dengan baik ketika kita berusaha dengan baik. Namun, dunia tidak bekerja demikian sederhananya.
Tamparan itu berbuah hasil, semesta seakan ingin memberikan aku ruang untuk bisa menata semuanya lagi dari awal. Bukan hanya untuk apa yang aku berikan kepada banyak orang, tapi tentang apa yang harus aku perhatikan kepada diriku yang hanya punya “AKU” untuk berjuang tiap langkahnya.
Yang perlu aku ingat selalu dalam diriku bahwa… “Dunia tidak akan runtuh tanpa kehadiranku. Tapi, duniaku akan runtuh ketika aku tidak hadir untuk diriku.”
Kadang kita bisa berikan 100% apa pun untuk orang lain. Mencegah kekecewaan dan rasa sedih yang dialami oleh orang lain. Tapi, yang sering kita abaikan perasaan kita sendiri. Bahwa menanyakan kembali apakah ini baik untuk kita, apakah ini perlu, apakah akan menyakiti kita, merugikan kita? Kita abai dengan perasaan kita sendiri yang sebenernya adalah hal yang paling utama untuk dipertimbangkan. Bukan egois, ini adalah boundaries.
So this is my first journal about finding my self in 60 days.
Wish me luck!



No Comments