Daily Deutschland Friend

Surat singkat dari seorang teman di negeri seberang

30/12/2013

20131230-224624.jpg

Hari ini, untuk ke sekian kalinya aku tersenyum semringah ketika pulang mendapati selembar amplop surat tergeletak di atas meja. Surat kali ini beramplop pink dengan hiasan gambar boneka kelinci yang lucu. Dua perangko bernilai 20 dan 58 cent bertuliskan Deutschland menempel di salah satu sisinya. Senyumku makin lebar ketika membaca tujuan dan asal surat beramplop pink itu. Aku lantas membukanya buru-buru dan segera membaca isinya.

Ya, ini adalah kegiatan yang tidak pernah putus aku lakukan sepanjang lima tahun terakhir, berkirim surat dengan beberapa teman di Jerman yang sekali pun aku belum pernah bertemu langsung dengan mereka. Surat pink hari ini adalah dari Rebecca, si mahasiswa pecinta lingkungan yang kini tinggal di Freiburg. Masih lekat dalam ingatanku bagaimana dulu aku berkenalan dengan dia. Dlu kami saling berkenalan lewat sebuah sosial media khusus untuk pertukaran bahasa. Waktu itu aku masih mahasiswa tingkat awal yang baru mengenal bahasa Jerman. Kami mengobrol beberapa kali di kotak surat sosial media tersebut sampai akhirnya kami bertukar alamat dan mulai berkiriman surat melalui pos. Bahasa Jermanku masih berantakan, tapi dia mengerti setiap apa yang coba aku ungkapkan dalam tulisan. Pernah sesekali kami bertemu di skype, tapi itu juga tidak berlangsung lama dan akhirnya kami sama-sama kehilangan kontak satu sama lain. Kami teruskan berkiriman surat, saling menunggu balasan. Beberapa kali aku terlambat membalas suratnya karena kendala bahasa. Aku harus mengatur kalimat agar bahasa Jermanku dapat dimengerti olehnya. sementara dia selalu membalas suratku dengan cepat karena dia selalu menulis dalam bahasa Ibunya.

Di dalam surat yang terus kami kirimkan satu sama lain banyak cerita yang kami saling sampaikan dalam surat itu hingga kami tau secara tidak sengaja ternyata kami memiliki hobi yang sama, yaitu Pramuka. Dia bercerita bagaimana dia gembira mengajari anak-anak di negaranya untuk berkemah dan melakukan kegiatan pramuka lainnya. Aku pun sebaliknya, aku ceritakan bagaimana kegiatan pramuka yang aku lakukan waktu aku di bangku sekolah dulu. Pernah waktu itu saking semangatnya bercerita tentang Pramuka di Indonesia aku sampai menyelipkan TKU Laksana di amplop suratku untuknya.

Dua tahun lalu komunikasi kami sempat terhenti karena Rebecca sibuk mengurusi kuliahnya dan juga kegiatan pecinta lingkungan dan sosialnya yang mengharuskan dia terbang ke beberapa negara, contohnya Afrika. Hingga suatu hari di tahun 2013 aku terkejut ketika mendapat kiriman kartu pos bergambar pemandangan Bali dari Rebecca. Ternyata dia sempat ke Bali saat mengirimkan kartu pos itu. Dia memberikan alamat barunya kepadaku melalui kartu pos tersebut dan kami kembali berkiriman surat. Hari ini aku mendapat surat balasan dari suratku yang sebelumnya, yang aku kirimkan sekitar dua bulan yang lalu. Aku khawatir surat yang disertai dengan paket itu tidak sampai karena aku membalas suratnya terlalu lama waktu itu. Aku takut dia sudah berganti alamat, dan aku tidak tahu kemana harus mengonfirmasinya apakah dia sudah terima paketku atau belu, karena ku tak tahu nomor teleponnya, alamat skypenya yang dulu sudah tak pernah aktif lagi, emailnya pun sudah tidak ada, dan profilnya di sosial media tempat kami berkenalan pun sudah dia hapus. Mungkin suatu kebetulan, hari ini aku berencana mengirimkan kartu pon untuknya dan aku urungkan akhirnya karena tadi ada pekerjaan yang tak bisa kutunda. Pulang dari kantor aku dikejutkan dengan surat darinya di atas meja. Benar-benar sebuah kebetulan yang mengembirakan. Aku akan balas suratnya secepat aku bisa.

Ini sepenggal ceritaku tentang Rebecca, salah satu sahabat penaku. Masih ada beberapa sahabat pena yang aku punya, salah satunya adalah Mimi, cewek Jerman yang sanagt tertarik dengan bahasa Indonesia. Namun, berbeda dengan Rebecca, aku dan mimi masih bisa berkontak via Facebook sehingga jika dia berganti alamat aku bisa dengan mudah mengetahuinya.

Mungkin di zaman digital seperti ini berkiriman surat melalui pos adalah hal yang sudah jarang mendapat perhatian. Tapi, buatku berkirim surat seperti ini memiliki seni tersendiri. Kita dilatih bersabar menunggu balasan meski balasan surat itu mungkin saja tidak akan pernah datang. Yang aku tahu, membaca membuka amplop lebih menyenangkan dibandingkan membuka email yang setiap saat bisa kutengoh dari ponselku.

Harapku sederhana, semoga suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan mereka secara langsung, entah saat mereka berkunjung ke negaraku atau nanti aku yang berkesempatan menjejakkan kakiku di negara mereka, melihat hijaunya Schwarzwald, takjub dengan kemegahan Brandenburger Tor, singgah menunggu kereta di Berlin Hauptbahnhof, memakai mantel tebal dan berjalan di tengah salju, serta melihat Schneeglรถckchen pertama yang mekar di awal musim semi.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply